JAWAS ( Jawa Asli )
Www.jnonews.com Mojokerto| Mr SH Presiden JAWAS menyikapi fenomena berorganisasi dan berlembaga, Banyak orang merasa sudah memahami organisasi dan kelembagaan.
Merasa mengerti struktur, merasa paham visi, bahkan lantang membawa nama lembaga ke mana-mana.
Namun ironisnya, masih ada yang memutuskan segalanya berdasarkan kehendak pribadi,
tanpa koordinasi, tanpa musyawarah, tanpa etika kelembagaan.
Seolah organisasi itu milik pribadi, bukan amanah bersama.
Inilah penyakit yang perlahan membunuh organisasi.
Bukan karena kurangnya sumber daya,
bukan karena lemahnya aturan,
tetapi karena ego yang dibiarkan lebih tinggi dari etika berlembaga.
Organisasi bukan panggung untuk unjuk kuasa pribadi.
Lembaga bukan alat pembenaran ambisi individu.
Setiap keputusan yang diambil tanpa mekanisme,
setiap langkah yang ditempuh tanpa koordinasi,
adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kolektif.
Kedewasaan berorganisasi diukur dari kemampuan menahan ego.
Profesionalisme berlembaga tercermin dari ketaatan pada sistem.
Bukan siapa yang paling vokal,
bukan siapa yang paling berani mengambil keputusan sendiri,
tetapi siapa yang paling taat pada aturan, prosedur, dan kesepakatan bersama.
Mari kita kembalikan organisasi ke marwahnya.
Bangun budaya koordinasi, bukan dominasi.
Hidupkan musyawarah, bukan kehendak sepihak.
Kuatkan struktur, bukan kultus individu.
Jika ingin dihormati sebagai organisator yang dewasa,
belajarlah tunduk pada mekanisme.
Jika ingin dikenang sebagai pemimpin yang profesional,
belajarlah mendengar sebelum memutuskan.
Karena organisasi besar tidak lahir dari ego besar,
melainkan dari kesadaran kolektif,
disiplin bersama,
dan tanggung jawab yang dijalankan dengan integritas.
Berorganisasilah dengan akal sehat.
Berlembagalah dengan etika.
Dan ingat,
nama lembaga adalah amanah,
bukan tameng untuk bertindak semaunya.( Red jno news hr )
