www.jnonews.com
MOJOKERTO — Jalanan mempertemukan banyak orang, tetapi tidak selalu membuat semua orang merasa mendapatkan perlakuan yang sama. Sabtu, 3 Oktober 2026, sejak pukul 07.00 WIB hingga selesai, Pendopo Graha Maja Tama Mojokerto menjadi titik berkumpul sekitar 500 anggota ojek online dari Gojek, Grab, dan Shopee se-Mojokerto Raya dalam agenda “Driver Community 2026: Satu Aspal, Satu Saudara.” Di atas kertas, acaranya terdengar lengkap: doa bersama, pembagian bansos, live musik, doorprize, dan ajakan “Datang. Hadir. Bersatu. Sukseskan!” Lengkap sudah. Tinggal satu pertanyaan sederhana: apakah semua yang tertulis di pamflet benar-benar diterima peserta?
Dalam agenda tersebut, Bupati Mojokerto hadir langsung dan memberikan pembinaan serta wawasan kepada para driver selama kurang lebih 30 menit. Kehadiran kepala daerah tentu memberi bobot tersendiri bagi kegiatan komunitas pengemudi yang sehari-hari menjadi bagian dari denyut mobilitas masyarakat. Sejumlah sponsor yang tercantum dalam publikasi kegiatan antara lain Aston Mojokerto, Dewi Sri, BPR Puri, TAM Grup, Sarirasa, Djarum, Topsell Mojokerto, dan Omoway. Dengan dukungan tersebut, ekspektasi peserta pun wajar jika ikut naik. Sebab kalau pamflet sudah bicara bansos dan doorprize, peserta tentu datang bukan hanya membawa helm, tetapi juga membawa harapan.
Namun setelah rangkaian kegiatan berjalan, muncul keluhan dari sebagian peserta. Salah seorang narasumber dari kalangan Gojek, berinisial RT, menyampaikan kekecewaannya karena menurut keterangannya pembagian bansos dan doorprize sebagaimana tercantum dalam pamflet tidak diterima peserta sesuai harapan dan waktu yang mereka nantikan. RT menilai peserta telah meluangkan waktu untuk hadir dan mengikuti kegiatan, sehingga wajar apabila mereka mempertanyakan realisasi program yang sejak awal dipublikasikan. Dalam bahasa sederhana: kalau undangan sudah bilang ada “pembagian”, peserta tentu datang dengan pertanyaan, “Pembagiannya kapan?” Bukan pulang membawa teka-teki.
Kekecewaan itu bahkan disampaikan dengan bahasa khas warga jalanan yang spontan dan apa adanya. “Lebih baik gak krungu, Om, daripada ngelis sebulan yang lalu, eeh... ternyata dapet tok.... Kirain dapat sembako dll, zonk wes, kalah waktu, kalah sak kabehe, ajur-ajur...” Keluhan lain juga mempertanyakan mengapa informasi mengenai bansos disebut dalam pamflet, tetapi yang dirasakan peserta justru hanya pembagian makanan ringan. “La gimana to kiih, udah jelas ada tulisan pembagian bansos lo..., kok pembagian roti tok... ada-ada aja...” Pernyataan tersebut merupakan keterangan/keluhan peserta, bukan bukti bahwa telah terjadi penyalahgunaan dana.
Di titik inilah persoalannya menjadi lebih penting daripada sekadar soal mendapatkan sembako atau doorprize. Publik berhak mengetahui apa bentuk bansos yang dijanjikan, siapa penerimanya, berapa jumlahnya, kapan pembagiannya, serta bagaimana mekanisme pembagian doorprize. Jika memang terdapat perubahan teknis, keterbatasan jumlah, atau alasan lain, penjelasan panitia menjadi penting agar tidak muncul ruang kosong yang kemudian diisi oleh prasangka. Sebab dalam kegiatan publik, transparansi bukan sekadar tambahan acara—ia adalah bagian dari acara itu sendiri. Dan guyonannya begini: doorprize boleh bikin deg-degan, tetapi jangan sampai transparansi yang bikin jantung berdebar.
JNO NEWS memandang keluhan peserta tersebut perlu dijawab secara terbuka dan proporsional oleh pihak penyelenggara. Apakah bansos memang telah disiapkan? Jika sudah, siapa penerimanya dan kapan disalurkan? Apakah doorprize tersedia sesuai informasi publikasi? Apakah terdapat perubahan teknis setelah pamflet disebarkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menunggu penjelasan resmi panitia. JNO NEWS juga membuka ruang klarifikasi bagi penyelenggara maupun pihak terkait untuk memberikan penjelasan, sehingga informasi yang berkembang tidak berhenti pada keluhan peserta semata. Sebab slogan “Satu Aspal, Satu Saudara” akan terasa lebih bermakna apabila solidaritas di jalan juga diikuti keterbukaan di meja penyelenggara.(hr)
JNO NEWS — Berita, Data, Klarifikasi.
